Tampilkan postingan dengan label I'm possible. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I'm possible. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Oktober 2017

Jomblophobia



“Sandal aja punya pasangan, masak kamu enggak?”
“Truk aja gandengan, masak kamu enggak?”
“Kota aja Samarinda, hla kamu sama siapa?”

Kira kira seperti ini bunyi meme yang berseliweran di media sosial. Ehm… lucu sih tapi menohok! Apalagi bagi kaum jomblo (dalam hal ini remaja yang belum punya pacar, HTS, hingga korban digantungin). Entah bagaimana tanggapa jomblowan dan jomblowati di luar sana. Diantara mereka pasti ada yang mewek, sedih, baper, frustasi, hingga bunuh diri. Tapi dari sini terbersit pemikiran saya bahwa remaja Indonesia itu kian takut berstatus seorang jomblo. Hmm…

Kehidupan remaja memang tak bisa dipisahkan dengan yang namanya cinta dan percintaan. Semua terasa indah jika berbahas tentang cinta. Bahkan, Kahlil Gibran, penyair terkenal itu, melukiskan bahwa cinta adalah nyala yang berkobar dalam hati manusia dan akan berjalan terus menuju keabadian. Ciee… yang lagi jatuh cinta!

Minggu, 11 Juni 2017

? (Tanda Tanya)



Bagi saya, membuat judul artikel itu gampang-gampang susah. Selalu saja ada yang mengganjal. Kurang inilah kurang itulah, lebih inilah lebih itulah. Mungkin ini juga yang ikut menjadi problematika tersendiri bagi kalian yang seorang penulis.

Bagaimana tidak? Setelah berjibaku dengan deretan kata yang diuntai menjadi kesatuan yang indah, penulis harus mencari lagi judul yang dirasa pas untuk mewakili karya masterpiece mereka. Pemilihan judul juga tidak boleh sembarangan. Penulis dituntut untuk mencari judul yang singkat, komunikatif, namun tetap mampu menarik perhatian pembaca.

Semakin hari, seiring dengan semakin menggilanya dunia digital, kita semakin banyak melihat varian-varian judul yang diciptakan penulis. Semakin kreatif judul sebuah artikel dibuat, maka semakin menarik perhatian si pembaca. Banyak pula yang berpendapat bahwa pemilihan judul itu menggambarkan karakteristik kepenulisan si penulis tadi. Hmm… benarkah?

Pemilihan judul ini bisa bermacam-macam. Ada penulis yang menggunakan judul pendek dengan dua sampai tiga kata. Ada pula penulis yang menggunakan hingga lebih dari lima kata di judul artikel. Selain itu, ada juga penulis yang menggunakan banyak tanda baca seperti tanda seru (!), tanda tanya (?) atau tanda baca lainnya pada judul yang mereka buat.


Minggu, 31 Januari 2016

Smartphone, Dump Users

















Apa benda pertama yang digenggam sebagian orang setelah bangun tidur? Gawai alias gedget.

Apa benda pertama yang digenggam sebagian orang sebelum tidur malam?
Gawai alias gedget.

Gedget, gawai, smartphone, ponsel pintar atau apapun namanya adalah sebuah inovasi besar yang sukses merubah gaya hidup manusia. Hampir semua aspek kehidupan kita dipengaruhi, tergantung, bahkan “dikendalikan” oleh benda nan imut ini.

Enggak berlebihan sih, karena segala macam kegiatan bisa kita lakukan dengan smartphone bahkan ketika posisi mager sekalipun. Mulai dari hal hal sederhana seperti berkirim pesan hingga hal hal penting seperti memesan moda transportasi taksi maupun ojek, berbelanja, memantau kondisi kesehatan atau bahkan mencari jodoh, mampu dieksekusi dengan baik oleh smartphone ini. Maka tak heran smartphone telah menjelma bak asisten pribadi manusia disegala urusan.

Kata orang botak... eh! Kata orang bijak, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Begitupun dengan kebiasaan kita menggunakan smartphone ini. Faktanya, ternyata banyak dari kita yang terlalu berlebihan dalam penggunaannya, seperti berlebihan sharing tentang masalah pribadi, berlebihan dalam berbagi kabar dan informasi, dan yang paling parah adalah berlebihan dalam penggunaannya hingga lupa waktu dan tempat. Nah loo...

Sabtu, 02 Januari 2016

(Sok) Bijak Rayakan Tahun Baru



Fiuhh...  enggak kerasa tahun 2015 sudah kita lalui. Segala macem suka duka, perjuangan, pengorbanan dan air mata campur aduk bak gado-gado. Karena rasanya yang mirip gado-gado ini hendaknya kita menikmatinya sambil ditemani rempeyek udang dan satu gelas teh anget. Nyaaammmm...

Yeah... namanya juga asem manis hidup. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Tul’ enggak?

Mumpung suasananya masih berbau-bau tahun baru, saya ingin menyimak cara-cara kita semua dalam merayakannya. Yap, tahun baru kali ini berasa istimewa karena bersamaan dengan liburan sekolah selama 2 minggu full, plus harpitnas (Hari Kejepit Nasional) gegara dua hari besar keaganaan yaitu natal dan maulid nabi. Dan episode pamungkasnya adalah tahun baru ini...

Suara terompet tahun baru bersahutan diseantero kota di Indonesia. Ribuan ton kembang api diluncurkan ke angkasa di seluruh dunia. Di kota saya sendiri, acara pergantian tahun berlangsung meriah. Semua orang: tua muda, besar kecil, kaya miskin, pengangguran maupun pengusaha, berpasangan maupun jomblo tumpah ruah di jalanan. Semua orang larut dalam kebahagiaan, apalagi dtambah dengan atraksi kembang api selama 15 menit cukup untuk memacetkan lalu lintas pantura pada malam itu.

Tapi apa yang terjadi keesokan harinya??


Kamis, 24 Desember 2015

Buang Buang Waktu di Usia Muda


Tik... Tok... Tik... Tok... Waktu terus berdetik...
Dia akan terus berdetik tanpa ada yang bisa menghentikan...

Dalam hidup, ada hal berharga yang tak bisa dibeli dengan uang yaitu waktu. Dua puluh empat jam per hari adalah waktu yang diberikan secara adil oleh seluruh manusia di muka bumi. Semua orang mendapatkannya, tapi tak semua orang mau menghargainya. Ini nih yang membedakan mana orang yang menghargai dan menyia-nyiakan hidupnya. Penilaian yang sederhana, bukan?

Menurut saya, waktu 24 jam sehari terasa kurang. Gimana enggak? Jika disamaratakan, 8 jam adalah waktu yang kita butuhkan untuk beristirahat, kemudian 7 jam adalah waktu yang kita habiskan untuk melakukan aktifitas rutin seperti bersekolah dan bekerja, 9 jam adalah waktu yang digunakan untuk melakukan aktifitas lainnya seperti memasak, berkebun, mendengarkan musik, atau menonton TV. Nah, selama 9 jam inilah kita (termasuk saya) sering terjebak dalam zona nyaman atau istilah kerennya adalah comfort zone. Dalam comfort zone inilah yang bisa membuat waktu berharga kita bisa terlewatkan. Lama kelamaan, kebiasan ini menurunkan produktivitas kita dan hidup bakalan sia-sia.

Kamis, 06 November 2014

Yuk, Bikin Kita Bahagia!




Berantem dengan orang tua, putus cinta, punya masalah dengan sahabat, sering  diomelan guru, dan seabgreg masalah yang bikin berat kepala memang bikin kita sedih. Tapi kita nggak perlu berlarut larut dalam kesedihan ini kok, yang penting kita bisa menghadapinya dengan rasional tanpa harus melibatkan emosi yang menggebu – gebu. 


Just let it flow, Let it Right. Motto hidup ini terasa pas banget biar hidup ini terasa lebih simple dan menyenangkan. Soalnya kita memang berhak untuk memperoleh kebahagiaan. Setuju kan...?

Nah... kalau kamu menghadapi berbagai masalah yang menguras air matamu, jangan merasa hopeless dulu dan berpikir kalau nasib baik nggak berpihak kepadamu. Coba deh simak resep bahagia dibawah ini, soalnya kamu memang orang yang pantas untuk bahagia!