Tampilkan postingan dengan label Idenesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idenesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Layar Lebar Rasa Sinetron



Sumpah mati saya tidak bermaksud merendahkan film Indonesia disini. Tulisan ini adalah murni uneg uneg saya sebagai pencinta film amatir yang coba mengkritisi apa yang terjadi di depan hidung saja.

Cerita ini bermula ketika saya menerima ajakan teman buat menonton film Ayat Ayat Cinta 2. Kami semua penasaran dengan kelanjutan kisah Fahri di Ayat Ayat Cinta pertama (2008). Apakah dia masih dengan Sabina? Apa mereka sudah punya anak? Dan terakhir yang bikin penasaran adalah melihat mantan calon pacar saya, Chelsea Islan Tatjana Saphira yang bakal beradu acting di film ini. Wuuihh…

Nah, berbekal ke-kepoan luar biasa itu kami pun berbondong bondong pergi ke bioskop Banjarsari, kota Pekalongan.

Spoiler alert!

Film Ayat Ayat Cinta 2 masih seputar kehidupan Fahri. Namun, kali ini proses syuting dilakukan di Edinburgh, Skotlandia. Diceritakan, Fahri adalah professor muda yang tinggal di lingkungan plural, dimana ada tiga agama dengan islam sebagai agama minoritas. Pesan kesan Islamophobia sangat terasa di film ini sebagai Fahri sebagai objek pesakitannya.

Seperti pada film sebelumnya, Fahri digambarkan sebagai sosok yang matang dan bijaksana. Dia menolak marah saat satu persatu tetangga memusuhinya. Fahri juga selalu menjadi penengah dari masalah dalam kehidupannya. Alhasil, satu demi satu konflik berhasil diatasi dengan kesabaran, harta, dan ilmu yang dia miliki.

Jumat, 19 Januari 2018

Hak Asasi Hewan




Ada banyak peristiwa menarik di sepanjang bulan oktober ini. Hampir berbarengan dengan hari habitat sedunia tanggal 6 oktober, 4 oktober dicanangkan sebagai “Hari Hak Asasi Hewan”. Loh… loh… hewan juga punya hak asasi?

Pencetusnya bernama Heinrich Zimmerman, seorang pria berkebangsaan Jerman. Sebelum ide ini go-global acara pertama dihadiri sekitar lima ribu orang di Sport Palace, Berlin, Jerman. Setelah perjuangan tak kenal lelah Zimmerman akhirnya Kongres Internasional Animal Protection turut mencanangkan bahwa 4 Oktober adalah hari Hak Asasi Hewan sedunia. Perayaan ini kemudian sukses di adopsi oleh 40 negara di dunia. Termasuk di Indonesia.

Saya adalah satu dari jutaan orang yang mendukung gerakan ini. kenapa? Hmm… pertanyaan culun. Karena sudah saatnyalah hewan mempunyai hak hak yang sama dengan manusia.

Selasa, 24 Oktober 2017

Jomblophobia



“Sandal aja punya pasangan, masak kamu enggak?”
“Truk aja gandengan, masak kamu enggak?”
“Kota aja Samarinda, hla kamu sama siapa?”

Kira kira seperti ini bunyi meme yang berseliweran di media sosial. Ehm… lucu sih tapi menohok! Apalagi bagi kaum jomblo (dalam hal ini remaja yang belum punya pacar, HTS, hingga korban digantungin). Entah bagaimana tanggapa jomblowan dan jomblowati di luar sana. Diantara mereka pasti ada yang mewek, sedih, baper, frustasi, hingga bunuh diri. Tapi dari sini terbersit pemikiran saya bahwa remaja Indonesia itu kian takut berstatus seorang jomblo. Hmm…

Kehidupan remaja memang tak bisa dipisahkan dengan yang namanya cinta dan percintaan. Semua terasa indah jika berbahas tentang cinta. Bahkan, Kahlil Gibran, penyair terkenal itu, melukiskan bahwa cinta adalah nyala yang berkobar dalam hati manusia dan akan berjalan terus menuju keabadian. Ciee… yang lagi jatuh cinta!

Minggu, 11 Juni 2017

? (Tanda Tanya)



Bagi saya, membuat judul artikel itu gampang-gampang susah. Selalu saja ada yang mengganjal. Kurang inilah kurang itulah, lebih inilah lebih itulah. Mungkin ini juga yang ikut menjadi problematika tersendiri bagi kalian yang seorang penulis.

Bagaimana tidak? Setelah berjibaku dengan deretan kata yang diuntai menjadi kesatuan yang indah, penulis harus mencari lagi judul yang dirasa pas untuk mewakili karya masterpiece mereka. Pemilihan judul juga tidak boleh sembarangan. Penulis dituntut untuk mencari judul yang singkat, komunikatif, namun tetap mampu menarik perhatian pembaca.

Semakin hari, seiring dengan semakin menggilanya dunia digital, kita semakin banyak melihat varian-varian judul yang diciptakan penulis. Semakin kreatif judul sebuah artikel dibuat, maka semakin menarik perhatian si pembaca. Banyak pula yang berpendapat bahwa pemilihan judul itu menggambarkan karakteristik kepenulisan si penulis tadi. Hmm… benarkah?

Pemilihan judul ini bisa bermacam-macam. Ada penulis yang menggunakan judul pendek dengan dua sampai tiga kata. Ada pula penulis yang menggunakan hingga lebih dari lima kata di judul artikel. Selain itu, ada juga penulis yang menggunakan banyak tanda baca seperti tanda seru (!), tanda tanya (?) atau tanda baca lainnya pada judul yang mereka buat.


Minggu, 21 Mei 2017

Cerita Kopi dan Koran Pagi


Pagi yang indah. Embun masih menetes di ujung dedaunan. Burung burung bercericit riang dibalik rimbunnya pepohonan. Sesekali mereka turun membawa ranting untuk dijadikan rumah. Awan berarak laksana kapas di langit biru. Huft… rutinitas seperti biasa di pekarangan rumah.

Aku punya cara tersendiri untuk bisa menikmati pagi. Cukup sederhana, sediakan saja koran tertibatan hari ini dan secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul, maka bisa dipastikan pagi itu akan terasa lebih khidmat dan syahdu.

Entah sejak kapan ritual ini aku mulai, tapi yang jelas hampir setiap pagi aku lakukan. Kalo dipikir pikir aneh juga, bukan? Saya yang masih remaja unyu-unyu begini baca koran? Kayak orang tua saja… huehehehe
 

Minggu, 31 Januari 2016

Smartphone, Dump Users

















Apa benda pertama yang digenggam sebagian orang setelah bangun tidur? Gawai alias gedget.

Apa benda pertama yang digenggam sebagian orang sebelum tidur malam?
Gawai alias gedget.

Gedget, gawai, smartphone, ponsel pintar atau apapun namanya adalah sebuah inovasi besar yang sukses merubah gaya hidup manusia. Hampir semua aspek kehidupan kita dipengaruhi, tergantung, bahkan “dikendalikan” oleh benda nan imut ini.

Enggak berlebihan sih, karena segala macam kegiatan bisa kita lakukan dengan smartphone bahkan ketika posisi mager sekalipun. Mulai dari hal hal sederhana seperti berkirim pesan hingga hal hal penting seperti memesan moda transportasi taksi maupun ojek, berbelanja, memantau kondisi kesehatan atau bahkan mencari jodoh, mampu dieksekusi dengan baik oleh smartphone ini. Maka tak heran smartphone telah menjelma bak asisten pribadi manusia disegala urusan.

Kata orang botak... eh! Kata orang bijak, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Begitupun dengan kebiasaan kita menggunakan smartphone ini. Faktanya, ternyata banyak dari kita yang terlalu berlebihan dalam penggunaannya, seperti berlebihan sharing tentang masalah pribadi, berlebihan dalam berbagi kabar dan informasi, dan yang paling parah adalah berlebihan dalam penggunaannya hingga lupa waktu dan tempat. Nah loo...

Minggu, 24 Januari 2016

Jakartasentris-nya Media di Indonesia




Sekilas, jika kita menonton acara berita di banyak stasiun TV seperti melihat liputan khusus kota Jakarta. Segala berita ringan hingga berat terus ditayangkan, mulai dari kemacetan di Cikampek, pembunuhan di Kalideres, tawuran pelajar di Kebayoran, atau pengeroyokan di Matraman, semua di ulas dengan sangat sangat mendetail.

Misalnya nih, sedang heboh-hebohnya kasus pencurian jemuran yang terjadi di Jakarta Barat. Acara berita di stasiun TV maupun internet berlomba lomba menayangkannya. Semua tokoh mulai dari Komjen Besar Polri, kriminolog, saksi mata, hingga orangtua si pencuri diundang khusus untuk menyingkap tabir pencurian jemuran ini. Setelah kasus pencurian jemuran ini selesai diungkap, muncul lagi kasus lain dan kebiasaan tadi berulang, begitu seterusnya. Sedangkan penonton diluar Jakarta sana hanya manggut manggut mengerti, bereaksi, tapi tak bisa berbuat apa apa.


Senin, 11 Januari 2016

Kebangkitan Musik Indonesia!



Seperti sebuah roda yang berputar, kondisi musik Indonesia juga mengalami fase naik turun. Dimulai pada medio 80’an dimana musik beraliran jazz sangat digemari penikmat musik Indonesia kala itu. Era ini sangat penting karena musik Indonesia mengalami transisi dari musik “tradisional” menuju musik “modern”. Musisi jazz pun bermunculan dan menyemarakkan blantika musik Indonesia. Namun, era 80’an bukan hanya milik jazz semata, aliran lain seperti pop, rock, dan dangdut berkembang tidak kalah cepatnya, menambah semarak musik nasional.

Tak dipungkiri, musikalitas mereka banyak terinspirasi musisi luar negeri yang telah lebih dulu terkenal seperti The Beatles, Rolling Stones, Stevie Wonder, Madonna, Queen, Metalicca, dll. Maka tak heran, selain aransemen dan lirik lagu yang dalam, banyak kritik sosial yang terselip di dalam lagu-lagu mereka.

Indonesia Musicians’ 80s

Koes Plus, Iwan Fals, Ebiet G Ade, Fariz RM, Indra Lesmana, Godbless, Elpamas, Rhoma Irama, Evi Tamala, Ikke Nurjanah, Maggy Z, Rinto Harahap, Vina Panduwinata, Utha Likumahuwa, Andre Hehanusa, Chrisye, Broery Marantika, Nicky Astria, Gombloh, Bob Tutupoly, Gito Rollies, Rita Sugiarto, Harvey Malaiholo, Franky Sahilatua, Dian Pramana Putra

Memasuki era 90’an, ketika kekreatifan dan kepopuleran mereka mulai menurun, nahkoda musik Indonesia diambil alih oleh generasi penerus mereka. Generasi penerus ini adalah anak anak muda yang memiliki talenta dan bakat besar dalam bermusik yang tergabung ke dalam banyak grup band. Jadilah, remaja angkatan 90’an dihebohkan oleh euforia kejayaan musik Indonesia.

Atmosfer persaingan yang panas antar grup band berhasil “memaksa” musisi muda ini untuk menghasilkan lagu lagu yang berkualitas. Apalagi dengan bermunculannya basis basis fans terkenal macam slankers (fans grup band Slank), Baladewa (fans grup band Dewa 19), atau Sheilagank (fans grup Band Sheila On 7). Musik mereka yang easy listening, jujur, apa adanya, serta lirik lagu yang cocok dengan kehidupan remaja sehari hari membuat lagu lagu mereka cepat diterima oleh para kawula muda.

Walaupun rata-rata bergenre serupa, yaitu pop, grup grup band ini memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan satu sama lain. Karakter ini terbentuk dari warna vokal dan gubahan aransemen sehingga memberi warna, gaya dan jiwa tertentu.    

Indonesia Musicians’ 90s

Wayang, Base Jam, Java Jive, Stinky, AB Three, Element, Tofu, T-Five, The Fly, Caffeine, Neo, Iwa K, Kla Project, Agnes Monica, Krisdayanti, Rossa, Audy, Glenn Fredly, Marcell, Titi DJ, Padi, Jamrud, Superman is Dead, Mocca, Andra & The backbone, Sheila on 7, Jikustik, /rif, Letto, Dewa, Serieus, Slank, Steven & Coconut Trees, Andien, Tangga, Project Pop, Naif, Ada Band, Samsons, Sherina Munaf, Tipe X, D, Cinnamons, Gigi, Kerispatih, Evo, Kahitna, Netral, She, Shaggy Dog, The Changcuters, Nidji, Peterpan (Noah), Ungu, RAN, Geisha, D’massive...

Masa kejayaan musik Indonesia mulai goyah memasuki awal tahun 2010. Kreatifitas yang menurun, regenerasi musisi yang terlambat, dan maraknya pembajakan membuat industri musik Indonesia memasuki titik terendah. Kesempatan ini dimanfaatkan band band kacangan yang ditampilkan secara memaksa, instan, dan yang penting masuk TV. (baca juga: Musik Indonesia Kekinian).

Puncaknya pada pertengahan 2014, publik Indonesia digegerkan dengan lahirnya era boyband/girlband yang sengaja mengadopsi dari Korea. Protes pun bermunculan dari banyak pemerhati musik Indonesia karena boyband/girlband dianggap hanya plagiat dan seringnya mereka lip-sync diatas panggung. Era ini sempat membuat “kotor” belantika musik Indonesia. (baca juga: R.I.Pboyband/girlband Indonesia).


Minggu, 13 Desember 2015

Mengenal Kabupaten Tertinggi di Indonesia



Kabupaten apa yang secara geografis tertinggi di Indonesia?

Hayoo... ada yang bisa jawab enggak nih? Saya yakin, beberapa dari kalian belum tentu bisa menjawab karena buku pelajaran geografi pun juga tidak ada yang membahasnya, kan?. Ehehehe...

Kalian perlu tahu nih, kabupaten tertinggi di Indonesia adalah Kabupaten Puncak Jaya yang berada di Provinsi Papua Barat. Kabupaten ini berada di ketinggian antara 300-4500 mdpl (meter diatas permukaan laut), menjadikannya sebagai kabupaten tertinggi di Indonesia. Puncak  Jayawijaya (4.884 mdpl) yang masih diselimuti es termasuk ke dalam wilayah kabupaten ini.



Sabtu, 24 Oktober 2015

R.I.P : Boyband dan Girlband Indonesia



Turut berduka cita atas meninggalnya sebuah era musik bernama Boyband dan Girlband Indonesia...

Rest in Peace
Telah berpulang ke Rumah Bapa Pakde:

Era BOYBAND DAN GIRLBAND

Pada hari Minggu, 9 September 2015
Dalam Usia 1 ¼ tahun

Mereka akan disemayamkan di “Taman Makam Kenangan”
Jl. Imam Samudra Rt. 03/Rw.05, Planet Venus

Kami yang merasa kehilangan:
WOTA
Alayers Indonesia
ABABIL Peduli


Sabtu, 05 September 2015

Mentari di Bumi Papua



Jika kita melihat sekelebatan berita dari media massa tentang Papua, biasanya berita itu berupa kekerasan, perang antarsuku, dan separatisme. Sangat jarang kita melihat adanya berita tentang keharmonisan antarsuku di Jayapura, Jalan yang rusak di Puncak Jaya, serta pembangunan infrastrukturnya.

Keadaan ini menciptakan stigma negatif yang melekat pada diri orang Papua. Orang Jawa (dan luar jawa) selalu menganggap orang Papua itu kasar, primitif, dan terbelakang.

Hal ini diperparah juga dengan sikap pemerintah yang terlalu memusatkan pembangunan di pulau Jawa sehingga tercipta ketidakmerataan pembangunan, khususnya di Indonesia timur. Sehingga bisa dipastikan, hampir separuh masyarakat Papua hidup dibawah garis kemiskinan.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Indonesia Trash Television Awards



Saya mencoba mengingat – ingat, sejak kapan ya acara televisi sudah enggak menarik lagi?

Karena ada suatu masa dimana televisi adalah hiburan utama orang Indonesia. Beberapa tahun lalu, acara tv legendaris lahir seperti misalnya sinetron Si Doel Anak Sekolahan dan Keluarga Cemara yang mengajarkan kita betapa pentingnya arti sebuah keluarga ditengah kesederhanaan. Di bidang musik, lahir juga MTV. Program musik berkualitas yang enggak hanya dipresenteri VJ berbakat, tapi juga acara yang dikemas menarik dan juga informatif.

Ketika saya berinjak dewasa (baca: TUA), saya seakan menjadi saksi bisu betapa anjloknya kualitas acara televisi di Indonesia. dimana sinetron sekarang malah mengajarkan kita cara merebut harta dan wanita dengan baik. Program musik yang enggak jelas lagi antara live show musik dengan live show masak serta sisipan games yang enggak penting. Dan acara kuis yang nyambi jadi infotainment. Sekali lagi saya hanya menjadi saksi bisu, saksi yang hanya melihat tanpa bisa berbuat apa-apa. Tentu saja sambil membayangkan generasi muda indonesia yang ikut-ikutan bodoh karena dicekoki dengan tontonan yang bodoh.

Selasa, 30 Juni 2015

Ketika Rupiah Menjadi Sampah...


Sore-sore, ketika lagi asyik nyapuin halaman (rajin MODE:ON) saya melihat uang logam Rp. 100 yang ikutan tersapu. Duh.. siapa sih yang buang-buang uang disini? Mentang-mentang duit seratus nilainya kecil. Paling enggak kan bisa untuk bayar pengamen atau pengemis yang biasa mampir ke rumah, pikir saya.

Yakin deh, hampir semua orang indonesia pernah mengalami kejadian yang mirip-mirip diatas. Dimana uang seratus rupiah hampir enggak digunakan lagi. Buktinya, coba kamu intip dompet temen kamu (kalo diijinin), rata-rata isinya adalah uang kertas, uang receh paling ada Rp.500 atau Rp. 1.000, jarang ada yang nyimpan uang seratus perak.

Kalo ditanya alasannya klasik, yaitu bikin dompet tambah berat atau bawa uang seratus perak itu enggak efisien. Tapi bener enggak sih?

Selasa, 23 Juni 2015

Kementerian Sosial Media



Internet itu udah jadi semacam candu buat sebagian besar rakyat Indonesia. Enggak dipungkiri sih, karena segala yang kita butuhkan ada disana. Yang pengen belanja, disediain toko online. Yang lagi suntuk, disediain game online. Yang lagi jomblo, disediain pacar online.

Entah karena jumlah tuna-asmara di Indonesia yang sudah semakin membludak, sosial media adalah media yang paling banyak di akses di Indonesia. Dimana 79,7 % dari total populasi di Indonesia adalah pengguna sosial media aktif! Pengguna sosial media, yang akrab disapa netizen, terkenal sangat kritis pada kejadian-kejadian viral yang sedang hot, punya rasa solidaritas yang tinggi, dan rata-rata punya jempol berukuran besar! :D

Biar bagaimanapun, efek sosial media lebih banyak buruknya daripada baiknya. Efek baiknya, sosial media memberikan akses informasi tanpa batas, memperluas pergaulan, dan sebagai sarana promosi yang murah dan efisien. Sedangkan sisi buruknya, sosial media membuka peluang tindak kejahatan yang lebih luas dan berbahaya.

Lantas, sudahkah netizen memanfaatkan sosial media dengan baik? Hmm... ternyata belum. Masih banyak oknum netizen yang memanfaatkan sosial media sebagai media baru untuk tindak kejahatan, seperti penipuan, penculikan, pornografi, bullying, pencitraan, prostitusi, penyebaran hoax, bahkan pemerasan. Banyak korban netizen yang dirugikan karena adanya tindak kejahatan dunia sosial media ini. Perlindungan hukum untuk melindungi netizen pun juga masih minim.

Minggu, 07 Juni 2015

Pengorbanan Menuju Persatuan



Dari 193 negara didunia, mungkin hanya ada satu negara yang mampu mempertahankan persatuan yang utuh sebagai sebuah negara merdeka, yaitu Indonesia. Gimana enggak? Indonesia adalah negara majemuk dengan suku bangsa, bahasa, dan lima agama berbeda yang dianut penduduknya, tapi semua itu tak lantas membuat negara ini penuh dengan perang saudara dan konflik berkepanjangan yang bisa mencabik-cabik persatuan.

Jika kita iseng membandingkan dengan negara lain, betapa mereka sangat sulit untuk mempersatukan budaya dalam satu negara. Malah, beberapa negara harus terpecah belah karena perang saudara. Misalnya pembubaran negara Yugoslavia karena perbedaan ras dan budaya. Lalu ada perang sipil karena diskriminasi ras dan agama di Sudan yang akhirnya memisahkan negara Sudan dan Sudan Selatan, dan yang paling hangat adalah lepasnya Crimea dari Ukraina yang lebih memilih untuk bergabung ke Rusia.

Negara lain seakan iri melihat persatuan di Indonesia yang tetap terjalin harmonis ditengah gejolak dan pertikaian ras, agama, dan politik di dunia. Mereka juga berpikir keheranan kenapa Indonesia yang notabene adalah negara dengan banyak budaya dan agama yang berbeda, tetapi tetap mampu hidup berdampingan satu sama lain.



Sabtu, 23 Mei 2015

Jangan Jadi Kupu-kupu



Loh...?? Emang manusia bisa ya berevolusi dan berubah jadi kupu-kupu? Kirain bisa berevolusi jadi monyet doang? Muehehehe...

Tenang broh... bukan gitu maksud saya. Kupu-kupu disini sebenarnya adalah salah satu peng-kategorian mahasiswa mahasiswi Indonesia berdasarkan gerak geriknya selama ngampus. Kategori/tipe ini terbentuk akibat lingkungan dan suasana kampus yang sedemikian rupa sehingga secara enggak sadar mereka bakal terkotak-kotak dalam beberapa kelompok. Tapi sebelum kita membahasnya lebih jauh, bersiap nih gaes karena beberapa kategori dibawah bakal menusuk relung ketek para mahasiswa-mahasiswa kita tercinta.

Jadi makin penasaran nih, apa sih maksudnya? Yuk kita bahas satu-satu...

Minggu, 12 April 2015

Pahlawan Yang Terlupakan



Selamat Hari Pahlawan semua... Telat ya? Hehehe. Tapi enggak apa-apa deh. Kali ini saya enggak membahas tentang pahlawan yang kita kenal lewat buku sejarah. Tapi tentang para pahlawan terlupakan yang justru tanpa kita sadari ada di sekitar kita.



Pahlawan terlupakan adalah pahlawan masa kini yang mempunyai sifat-sifat kepahlawanan yang mirip dengan pahlawan kemerdekaan indonesia. Mereka rela berkorban demi kepentingan orang lain, pantang menyerah, berjuang sampai titik darah penghabisan, ikhlas menolong siapa saja. Yap, itulah kemampuan super mereka yang belum tentu dimiliki orang lain.

Selasa, 25 November 2014

Anak Muda Zaman Sekarang



“Wo, main kelereng yok”

“Dimana? Capek nih...  Mending kita main pe-es an. Noh, di warnet bang Juno. Katanya game CS sekarang ada seri balap juga lo..”

“Masak sih? Ayo deh...”


Begitulah sepenggal percakapan antara Aldi dan Bowo. Dua bocah ingusan dan kurapan ini lebih milih main game online daripada main kelereng. Ini adalah sedikit cerminan perilaku anak zaman sekarang.

Sebelum globalisasi “menggila”, anak muda indonesia enggak lincah, ceria, dan sopan lagi kaya dulu. Lihat aja tuh si Aldi dan Bowo, mereka malah asik ngejogrok di warnet ber jam-jam, sambil sesekali misuh – misuh kasar waktu jagoannya kalah. 

Sabtu, 08 November 2014

Tren Lip-sync Musisi Indonesia


Hai sodara-sodaraku sebangsa dan setanah air...


Apa diantara kalian ada yang suka musik? Hmm.. Saya rasa semua orang di jagad raya ini enggak ada yang enggak suka musik. Mulai dari musik keroncong sampai dangdut, dari pop sampai metal, dari akustik sampai dugem. Alunan musik bagaikan sebuah sungai yang mengalir indah dikepala kita.


Seperti judul yang udah ngegantung diatas, saya pengen membahas tentang sebuah tren yang sedang menjangkiti semua penyanyi Indonesia sekarang ini yaitu lipsync. Btw, tau lipsync, kan? Itu lho penyanyi yang kalo perform di panggung bibirnya cuma komat-kamit doang, suara vokalnya diganti dengan sound system yang disetel keras keras dibelakang mereka! Kalo tujuannya hanya untuk hiburan seperti video Keong Racun-nya Sinta Jojo atau video India Norman Kamaru sih enggak masalah, tapi kalo buat konser musik??

Jumat, 07 November 2014

Penjara "Idaman" Koruptor




Pandangan masyarakat awam tentang sel penjara adalah sempit, kecil, dan panas. Namun, hal ini tidak berlaku bagi penjara penjara terpidana korupsi di Indonesia. Berita terhangat adalah ketika Tim Mata Najwa Metro TV yang dipimpin oleh wamenkumham, Deny Indrayana melakukan sidak di penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.


Tidak seperti namanya “Sukamiskin” yang diibaratkan bakal memiskinkan koruptor, penjara ini memiliki fasilitas mewah dan para napi bebas keluar masuk komplek penjara. Sehingga host fenomenal Najwa Sihab itu menyamakan penjara Sukamiskin seperti kamar kost atau apartemen Harusnya penjara itu diganti saja ya namanya menjadi penjara “Sukakaya” karena sipir penjaranya mendadak kaya karena hasil dari uang sogokan para penghuninya.


Tidak hanya sekali ini saja lho para terpidana korupsi kepergok dengan kemewahan di penjara. Sebelumnya, terpidana kasus suap Artalyta Suryani juga tertangkap basah sedang menikmati kemewahan hotel prodeo miliknya yang disulap layaknya hotel bintang lima!