Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2019

Berita "Cantik", Berita Menarik



Selamat pagi, siang, sore warga netijen yang budiman dimanapun kamu berada.
Bertemu lagi dengan saya dalam sebuah blog yang postingannya engak penting penting amat. Namun, selalu dibuat dengan perasaan yang tulus dan khidmat.

Sekarang ini kita hidup di zaman serba cepat. Hanya dengan sentuhan jempol kita bisa mendapat berita ber-mil – mil jauhnya. Situs beritapun terus tumbuh bak hujan di musim jamur (Ups, sory! Kebalik). Mengalahkan kanal berita konvensional berbasis cetak yang selama ini merajai industri berita tanah air.

Karena banyaknya situs berita maka persainganpun terjadi sangat ketat. Ahli SEO dan programmer berlomba lomba agar situs berita miliknya menguasai mesin pencari seperti google. Beritapun mereka buat dengan judul semenarik mungkin demi mendapatkan visitor sebanyak mungkin. Semakin banyak visitor yang mengunjungi situs berita, semakin banyak pula pundi pundi rupiah

Sabtu, 14 November 2015

Fashion Kampus



Kehidupan kampus itu enggak melulu berkutat dengan tugas yang menumpuk, dosen killer, atau skripsi yang tak kunjung selesai. Dibalik suasana suram itu semua, masih banyak kok hal-hal yang menarik yang bisa diambil di seputaran kampus. Salah satunya adalah menyimak gaya berpakaian mereka sehari-hari.

Bagi mahasiswa sendiri, gaya berpakaian adalah hal yang super duper penting karena selain sebagai simbol identitas dan ekspresi diri, gaya berpakaian yang baik bisa menumbuhkan percaya diri di lingkungan kampus. Jadi enggak heran jika ada mahasiswa/i yang rela memotong uang jajannya untuk sekedar membeli baju atau aksesori pelengkap tubuh mereka.

Nah, jika semasa SMA para mahasiswa ini “dipaksa” untuk terus memakai seragam putih abu-abu. Kini di bangku kuliah, mereka bebas bereksperimen dengan mengkombinasikan fashion style sesuai dengan keinginan mereka. Tentu saja dengan tetap mematuhi norma kesopanan kalo enggak mau digaruk satpol PP alias satpam kampus.

But eniwei... selain tentang selera dan tren fashion yang sedang terjadi, fashion mahasiswa kampus juga banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ini nih yang menentukan kebebasan mahasiswa dalam berpakaian. Mau tau faktor apa itu? Mau tau aja apa mau tau banget? Huehehe... Oke, daripada ngambek gitu, yuk kita simak pengkategorian fashion kampus berikut ini...


Kamis, 17 September 2015

Jl. Kompasiana RT. 03 / RW.05



Setelah hampir setengah tahun menjadi silent reader di Kompasiana, akhirnya saya ikut bergabung juga menjadi member disini. Ada sedikit ketakutan ketika saya menulis artikel pertama berupa puisi sederhana kemarin. Apakah puisi saya ini akan dibaca? Akankah puisi saya ini bakal HL? Ataukah server kompasiana akan error menerima artikel saya yang masih acakadut enggak keruan? I don’t know babar blas, dude!

Tapi yang jelas, ada semangat menggebu untuk ikut serta bergabung di dunia persilatan Kompasiana. Semangat yang berkobar – kobar didalam jiwa dan raga #lebay

Kenapa sih gabung ke Kompasiana?

Kata mamah saya, mencari teman itu haruslah berhati – hati. Jika ingin pintar, bergabunglah dengan orang – orang pintar, karena pengaruh lingkungan akan menentukan pribadi kita nantinya. Ini juga salah satu alasan saya bergabung di wadah komunitas Kompasiana. Menurut saya, kompasiana itu berisi orang – orang yang cerdas, kreatif, dan lugas dalam menanggapi suatu hal. Ini terlihat dari artikel berisi analisis dan pendapat yang tertuang dalam tiap artikel yang mereka buat. Kadang mereka juga mendukung dan menyanggah pendapat kompasioner lain, tapi tetap dengan cara yang santun dan elegan. Kondisi sportif inilah yang bikin saya betah untuk membaca artikel demi artikel di Kompasiana.

Senin, 07 September 2015

Rumahku, Istanaku


Rumah...

Ada sebagian orang yang berpendapat rumah adalah simbol prestise, yang hanya untuk ditinggali, dirawat, kemudian ditinggalkan hingga akhirnya dilupakan. Bagi mereka, rumah harus dibangun bertingkat-tingkat, dengan tembok tinggi disekelilingnya, plus satpam dan dua anjing galak yang menjaganya.

Tapi bagiku, rumah bukan hanya sekedar itu...

Rumahku, istanaku tidak hanya sekedar tumpukan bata dan segala perabotan mewah yang menghias didalamnya. Rumah, akan menjadi sebuah “istana” apabila diisi dengan satu hal penting, yaitu kehangatan keluarga. Tanpa satu syarat ini, rumah yang berdiri megah pun akan terasa seperti gubug reyot nan sepi jika tidak ada sentuhan hangat keluarga. Sebuah paradoks yang juga menjelaskan kepada kita bahwa betapa kebahagian itu tak bisa dibeli dengan uang satu karung sekalipun.