Jumat, 07 November 2014

Bahasa Indonesia Terancam!



“Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia”


“Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia"


“Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”



Hayoo... Pada hapal enggak teks sumpah pemuda diatas? Jangan ngaku pemuda Indonesia deh kalo belum, karena ini adalah tonggak sejarah dalam persatuan negara kita tercinta, Indonesia.


Setelah delapan puluh enam tahun ikrar ini diucapkan, kira-kira sumpah pemuda diatas dipraktekin enggak ya oleh pemuda pemudi Indonesia sekarang? Ini nih sedikit gambarannya...

Sumpah Pemuda dari masa ke masa
Okelah, kalau kita berani bersumpah bahwa tanah air kita tanah air Indonesia karena disini adalah tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan. Kita juga pasti setuju kalo kita termasuk bangsa Indonesia asli, bukannya bangsa jin atau tuyul, ya kan’? hehehe. Tapi, apakah kamu juga menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharianmu?

Sebelumnya, kamu harus tau nih ternyata bahasa Indonesia berada di peringkat ke-7 sebagai bahasa yang paling banyak dipakai di seluruh dunia (World Almanac, 2005). Selain itu, peneliti dari Ethnologue: Languages of the World (2009) juga menempatkan bahasa Indonesia dengan jumlah penutur terbanyak ke-9 di dunia yaitu berjumlah 176 juta orang.


Hal ini masuk akal karena bahasa indonesia diucapkan dan dipahami oleh 90% warga Indonesia. Bahasa ini juga digunakan hampir disegala bidang kehidupan; sebagai bahasa pengantar dan pergaulan antaretnis dan juga sebagai bahasa resmi dalam kegiatan pemerintahan, dunia kerja, dunia pendidikan, dan dunia lain. *eh*


Tapi tanpa kita sadari keberadaan bahasa Indonesia ini malah “diancam” oleh kita sendiri, para pemuda-pemudi masa depan bangsa. Kita cenderung lebih suka memakai kata-kata serapan dari bahasa inggris agar kelihatan keren dan intelek, padahal. Bukan hanya diselipkan lewat kata-kata yang kita ucapkan, bahasa serapan ini juga sering kita ketik di medsos yang akhirnya tertular oleh teman-teman kita yang lain. dan yang paling bikin eneg adalah bahasa alay yang mulai menyebar luas...
 
Kamus Alay

Hihihi... lucu banget bahasa alay diatas. Biasanya sih bahasa ini banyak digunakan oleh para ababil (abg labil) yang baru belajar ngomong di sosmet. Alasannya biar keliahatan lucu dan gahul. Padahal bagi kita yang udah dewasa. Bahasa ini terkesan enggak sopan dan “celelekan”.

Penggunaan bahasa Indonesia yang tidak benar, lama lama bakal menggerus kebenaran dan ketepatan yang dimiliki bahasa nasional Indonesia. Sama seperti nasib bahasa ibu (bahasa daerah) di wilayah pedalaman Indonesia. Jika tidak dilestarikan akan punah karena tidak ada yang mau memakai bahasa daerah tersebut.

Bahasa Indonesiapun demikian, karena serbuan bahasa asing, banyak kata serapan yang diambil. Hal ini mengancam karakter dari bahasa kita sendiri. Mungkin suatu saat nasib bahasa Indonesia sama seperti bahasa-bahasa Eropa (Jerman, Perancis, Italia, dan lain-lain) yang mulai ditinggalkan karena orang-orangnya lebih suka memakai bahasa Inggris.


Nah, apakah kita akan diam saja melihat bahasa Indonesia tergerus? 


Jangan dong! Cintailah bahasa sendiri! Memang bahasa Indonesia agak rumit dan bikin pegel kalo diucapkan, tapi inilah keunikan bahasa kita. Kita bisa memulai dengan perbuatan kecil dulu, misalnya berkirim pesan dengan berbahasa Indonesia sopan, berbicara dengan mengurangi selipan bahasa inggris, dan jangan terlalu mendewakan bahasa gaul dalam kehidupan sehari – hari.


Tindakan tindakan ini kecil memang, tapi bukan tanpa arti. Dengan ini kita sudah turut berpartisipasi dalam memenuhi sumpah pemuda dengan menjunjung tinggi bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.




Kalau buka kita yang melestarikan, siapa lagi?









Tidak ada komentar:

Posting Komentar